Sukakata.com - Kirab ampyang maulid tak hanya menjadi momentum memperingati kelahiran Nabi Muhammad Saw. Tradisi tersebut juga mewariskan nilai-nilai spiritual dan ajaran bersedekah yang terus diwariskan untuk generasi mendatang.
Hal itu diwujudkan dalam pelaksanaan Festival Ampyang Maulid di Desa Loram Kulon, Kecamatan Jati, Kabupaten Kudus, Selasa (25/8). Festival tersebut dilangsungkan setiap tanggal 12 Rabiul Awal atau bertepatan dengan momentum memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW sekaligus menjaga kearifan lokal.
Ribuan warga tumpah ruah dalam rombongan kirab membawa gunungan hasil bumi hingga kerupuk warna-warni (ampyang, red) menuju Masjid Wali At-Taqwa Loram Kulon.
Tak hanya itu, 43 kontingen yang ikut menyemarakkan tradisi tahunan itu juga menampilkan kreativitas hingga kesenian yang menghibur warga. Di lokasi finish, gunungan berisi 500 nasi kepel berbungkus daun jati sudah disiapkan untuk diperebutkan.
Cara itu menjadi simbol bersedekah saat zaman Sultan Hadirin (murid Sunan Kudus) saat terjadi paceklik atau sulit pangan. Kepala Desa Loram Kulon, Wahyu Saputro kirab ampyang maulid sudah menjadi tradisi yang berlangsung sejak masa Sultan Hadirin.
"Tradisi itu tetap terpelihara hingga kini meskipun wilayah Loram telah terbagi menjadi Loram Kulon dan Loram Wetan", ucap Wahyu.
Menurutnya, kreativitas peserta dalam melestarikan tradisi ini juga mengajarkan semangat gotong royong, kebersamaan hingga ajaran bersedekah.
“Kami ingin meneladani Nabi Muhammad SAW melalui kegiatan festival ampyang maulid ini,” ujar Wahyu.
Ratusan nasi kepel yang disediakan merupakan simbol sedekah dan wujud syukur warga Loram atas rezeki melimpah. Isinya beragam, mulai dari nasi lauk tahu hingga daging, telur, maupun ayam.
Anggota Komisi XI DPR RI Musthofa mengapresiasi pelaksanaan tradisi Ampyang Maulid yang terus dipelihara. Menurutnya, kegiatan tersebut mengajarkan tiga nilai penting, yakni keteladanan Nabi Muhammad SAW, pemberdayaan ekonomi serta pelestarian budaya dan wisata desa.
Kegiatan ini juga bisa memberikan dampak untuk masyarakat seperti UMKM dan pariwisata desa yang bisa menjadi daya tarik," ujarnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kudus Abdul Halil menegaskan, kegiatan Festival Ampyang Maulid menjadi warisan budaya Kudus yang perlu dilestarikan. Pihaknya berjanji akan mendampingi dan memfasilitasi kegiatan tradisi desa sebagai bagian dari pengembangan potensi wisata berbasis budaya.
" Ini termasuk salah satu promosi wisata, Loram Kulon punya tradisi Ampyang Maulid, kami harap bisa dilestarikan sebagai salah satu keunggulan potensi desa," ungkapnya.
Dengan perpaduan antara tradisi keagamaan, budaya, dan aktivitas ekonomi masyarakat, Festival Ampyang Maulid diharapkan tidak hanya menjadi agenda tahunan. Tetapi juga mampu memperkuat identitas Loram Kulon sekaligus menggerakkan potensi ekonomi dan wisata lokal.