SukaKata.com — Keberlangsungan jurnalisme berkualitas di era digital tidak hanya bergantung pada produksi konten yang baik, tetapi juga pada ketahanan ekonomi perusahaan pers. Hal tersebut ditegaskan oleh Anggota Komite Tanggung Jawab Perusahaan Platform Digital untuk Mendukung Jurnalisme Berkualitas (KTP2JB), Ambang Priyonggo, Ph.D., dalam acara Jambore Media Afiliasi Muhammadiyah #3 di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Rabu (12/8/2026).

Ambang menjelaskan bahwa dominasi platform digital dalam distribusi berita dan iklim periklanan menciptakan tantangan besar bagi pers nasional. Seperti penurunan pendapatan hingga pemutusan hubungan kerja jurnalis. Kondisi ini berpotensi mengganggu ketersediaan informasi berkualitas bagi masyarakat, sekaligus mengancam kualitas ruang publik dan demokrasi.

“Fungsi media menyediakan informasi dan menjadi salah satu pendukung demokrasi. Karena itu, ketika keberadaan media terancam, yang dipertaruhkan bukan hanya industri pers, tetapi juga kualitas ruang publik” ungkap Ambang.

Untuk menjaga keseimbangan ekosistem media, Peraturan Presiden Nomor 32 Tahun 2024 mewajibkan perusahaan platform digital menjalankan enam poin utama, antara lain:

  1. Memprioritaskan fasilitasi dan komersialisasi berita berkualitas produksi perusahaan pers.

  2. Tidak memfasilitasi penyebaran atau komersialisasi konten yang melanggar hukum.

  3. ‌Memberikan perlakuan yang adil serta mengembangkan sistem algoritma yang mendukung distribusi berita berkualitas.

  4. Mendukung pelatihan jurnalisme bertanggung jawab.

  5. ‌Membangun kerja sama konkret dengan perusahaan pers melalui lisensi berbayar, bagi hasil, bagikan data agregat, atau bentuk kesepakatan lain.

Meski KTP2JB aktif memantau kepatuhan platform, Ambang menyoroti ketimpangan posisi tawar perusahaan pers yang masih menjadi kendala utama. Oleh karena itu, ia mendorong para pengelola media, termasuk media afiliasi Muhammadiyah, untuk tidak sekadar melakukan migrasi platform, melainkan adaptif terhadap algoritma, tata kelola data, dan pemahaman model bisnis digital secara mandiri.

“Tidak cukup kemudian bagi media menghasilkan konten yang berkualitas saja, tetapi tentu secara bisnis lebih penting bagaimana mereka mampu untuk bertahan. Jadi dua-duanya, kontennya berkualitas dan ketahanan ekonominya” tegas Ambang, sambil menutup sesi sosialisasinya. (Octav)