Sukakata.com — Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen), Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa pengenalan sains untuk anak usia dini tidak harus bergantung pada laboratorium berbiaya mahal. Pengenalan sains sejak usia dini dinilai dapat dimulai dari lingkungan sekitar, seperti sawah dan area terbuka di sekitar sekolah, secara sederhana dan menyenangkan.
Pernyataan tersebut disampaikan Abdul Mu’ti saat menghadiri peluncuran program STEM (Science, Technology, Engineering, and Math) Nasional di TK Kalilejo, Kecamatan Undaan, Kabupaten Kudus. Langkah ini menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat pembelajaran STEM PAUD sekaligus mendukung efektivitas program wajib belajar 13 tahun.
Mengubah Mindset Belajar Sains Usia Dini
Menurut Abdul Mu’ti, tantangan utama dalam pengenalan sains kepada anak-anak adalah persepsi atau pola pikir bahwa sains merupakan disiplin ilmu yang rumit dan berbiaya tinggi. Fondasi utama pembelajaran STEM PAUD adalah mengubah mindset tersebut agar anak-anak memahami bahwa siapa saja bisa menjadi seorang saintis.
“Yang penting membangun mindset-nya dulu. Mindset itu menentukan bagaimana kita melakukan sesuatu. Sehingga mindset itu kita ubah dengan sains itu mudah. Artinya semua orang bisa menjadi saintis,” ujar Abdul Mu’ti.
Ia menambahkan, keterbatasan fasilitas sekolah tidak boleh menjadi penghalang untuk mengenalkan konsep sains kepada siswa, khususnya di jenjang Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).
“Tidak harus membeli peralatan lab yang harganya miliaran. Tapi bisa dari keseharian, di mana anak-anak itu bisa menemukan banyak hal di lingkungan sekitarnya,” tuturnya.
Membangun Curiosity Melalui Alam Terbuka
Pengenalan sains sejak usia dini bertujuan untuk mengasah rasa ingin tahu (curiosity) dan daya eksplorasi alami anak. Anak usia dini memiliki kecenderungan spontan untuk bertanya dan meneliti hal-hal baru di sekitar mereka.
Abdul Mu’ti mengimbau para pendidik dan orang tua agar tidak membatasi atau menakut-nakuti anak ketika mereka mengeksplorasi suatu objek. Sebagai contoh, alih-alih hanya menunjukkan gambar atau video di dalam kelas, guru dapat mengajak siswa mengamati ekosistem nyata di luar ruangan.
“Alam itu sesungguhnya menjadi laboratorium terbuka bagi siapapun untuk mau belajar dari berbagai peristiwa,” tegasnya.
Melalui kunjungan ke lingkungan seperti sawah, anak-anak TK dapat mengamati secara langsung interaksi antar-makhluk hidup, seperti rumput, tanaman padi, belalang, semut, hingga kupu-kupu.
Implementasi Program STEM Nasional dan Wajib Belajar 13 Tahun
Program STEM Nasional diharapkan mampu menjadi pendorong utama transformasi metode pembelajaran interaktif di seluruh TK di Indonesia. Pengenalan sains secara kontekstual ini dinilai selaras dengan agenda prioritas pemerintah dalam menerapkan wajib belajar 13 tahun yang dimulai dari jenjang pra-sekolah.
Dalam kesempatan tersebut, Abdul Mu’ti menyampaikan apresiasi kepada Pusat Belajar Guru dan seluruh pihak terkait yang terus berinovasi mengembangkannya di tengah keterbatasan fasilitas.
“Ciri orang yang kreatif, keterbatasan tidak boleh menghalangi kita untuk berkarya. Keterbatasan justru menjadi momentum untuk kita tetap melaksanakan hal yang produktif,” pungkas Abdul Mu’ti.