Oleh : Pujiono - Ketua FGM Boyolali
Ada kalanya guru gelisah.Ingin bekerja profesional, tetapi honor belum layak disebut profesional. Ingin memberikan yang terbaik, tetapi kesejahteraan belum sebanding dengan tanggung jawab. Akhirnya muncul kalimat dalam hati, “Kalau imbalannya segini, ya bekerja seadanya saja.”
Di sinilah kita perlu berhenti sejenak dan bertanya:
Kita menjadi guru karena jenang, atau karena jeneng?
Jenang adalah hasil, kesejahteraan, penghargaan. Sedangkan jeneng adalah nama baik, kepercayaan, reputasi, dan kualitas diri.
Menjadi guru bukan pekerjaan sambil lalu. Ia adalah amanah. Ada anak-anak yang masa depannya dititipkan kepada kita. Ada ilmu yang harus disampaikan. Ada akhlak yang harus diteladankan. Ada pahala yang mungkin terus mengalir meskipun kita telah tiada.
Di situlah kemuliaan seorang guru. Karena itu, ketika jenang belum sesuai harapan, jangan sampai jeneng ikut kita jatuhkan.
Tetaplah mengajar dengan sungguh-sungguh. Tetap belajar. Tetap memperbaiki diri. Tetap menjaga amanah. Sebab profesionalisme tidak semestinya baru muncul setelah penghargaan datang.
Ada banyak guru yang memulai dari honor sederhana, fasilitas terbatas, dan ruang perjuangan yang sepi. Namun karena profesinya ditekuni, dihayati, dan dijalankan dengan penuh tanggung jawab, perlahan mereka membangun jeneng.
Murid percaya. Orang tua percaya. Lembaga percaya.Masyarakat mencari. Keahlian menjadi dikenal. Karya mulai dihargai.
Dan akhirnya jenang datang mengikuti jeneng. Jeneng dulu, baru jenang.
Tetapi ini bukan berarti lembaga boleh mengabaikan kesejahteraan guru. Guru tetap layak mendapatkan penghargaan yang adil. Lembaga juga memiliki amanah untuk memperhatikan kehidupan mereka.
Guru dan lembaga harus sama-sama bertumbuh:
Guru meningkatkan kualitas, lembaga meningkatkan penghargaan.
Guru menjaga amanah, lembaga menjaga kesejahteraan.
Sebab guru yang baik bukanlah guru yang hanya bertahan karena honor, tetapi guru yang memahami bahwa setiap hari ia sedang menanam sesuatu.
Mungkin tidak semuanya dibayar hari ini. Tetapi ada ilmu yang tumbuh pada murid. Ada akhlak yang berubah. Ada masa depan yang terbentuk. Dan ada pahala yang insyaallah terus mengalir. Maka jangan menjadi guru sambil lalu.
Jadilah guru yang sungguh-sungguh. Sebab pekerjaan boleh sederhana, tetapi amanahnya tidak sederhana.
Honornya mungkin belum besar, tetapi jangan biarkan pengabdian kita menjadi kecil.
Bangun jeneng dengan kompetensi, integritas, keteladanan, dan karya. Karena boleh jadi, ketika kita sibuk menjaga amanah hari ini, Allah sedang menyiapkan jenang pada waktu yang paling tepat.
Jeneng dulu, baru jenang.
Bukan jenang terus, tetapi jeneng yang harus dibangun.
Dan ketika kelak nama kita dikenang, semoga bukan karena berapa besar yang kita terima, tetapi karena berapa banyak kebaikan yang kita tinggalkan.
Pasar Beringin Harjo Jogjakarta, 26 September 2026