Oleh : Tunjung Eko Wibowo
Sering kali kita membaca sebuah pernyataan di media sosial yang menyebut umat Islam terkadang terlalu fokus pada dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh umat lain. Sementara persoalan serupa yang dilakukan oleh sesama muslim justru dianggap biasa. Sebenarnya pernyataan atau kejadian seperti itu menyimpan pertanyaan yang lebih besar, seperti gunung es di tengah lautan.
Bukan semata-mata tentang siapa yang menista agama dan siapa yang tidak. Tetapi hal itu berhubungan dengan psikologis orang pada umumnya yang sangat minim literasinya. Seberapa konsisten kita menggunakan ukuran yang sama dalam membela sebuah kebenaran ataupun pembenaran.
Dalam kalangan orang awam sekaligus simpatisan Muhammadiyah, saya melihat persoalan ini layak menjadi bahan perenungan bersama. Sebab dalam kehidupan beragama, kita sering kali mudah tersulut ketika sesuatu menyentuh identitas kelompok. Namun, pada saat yang sama kita tidak selalu memiliki keberanian yang sama ketika harus melihat dan mengoreksi kekurangan dari dalam kelompok sendiri (sesama Islam).
Apakah Moderasi Beragama Mendapatkan Relevansinya?
Saat ini kita juga disodori kehidupan dalam moderasi beragama. Namun sebaiknya kita jangan menjadi umat yang selalu diam, menghindari perdebatan. Atau menganggap semua pendapat sebagai sesuatu yang benar jika senumat, sekelompok, seagama, jika gen z satu server.
Dalam hal moderasi juga bukan berarti mengurangi keyakinan terhadap agama sendiri agar terlihat toleran. Justru moderasi membutuhkan kemampuan untuk bersikap teguh dalam keyakinan sekaligus adil terhadap orang yang berbeda. Jangan sampai terlihat gagah, besar dari pandangan luar, tetapi sebenarnya keropos didalamnya.
Ketika ada seseorang dari luar Islam yang menyampaikan pernyataan yang dianggap menghina Islam, langsung semua umat menyampaikan keberatan. Bahkan dengan demo yang berjilid-jilid, bahkan menghalalkan yang sebenarnya haram. Agama adalah bagian penting dari kehidupan seseorang, sehingga perasaan tersinggung ketika simbol atau ajaran yang diyakini dilecehkan merupakan sesuatu yang dapat dipahami.
Namun, persoalannya menjadi berbeda ketika reaksi tersebut hanya didasarkan pada potongan informasi, unggahan media sosial, atau asumsi. Kita seharusnya bertanya lebih dahulu: apa yang sebenarnya dikatakan? Apa konteksnya? Apakah benar terdapat penghinaan? Apakah informasi tersebut utuh? Dan yang paling penting, apakah tuduhan tersebut memiliki bukti yang cukup?
Informasi Digital Yang Belum Teruji Dapat Melahirkan Persoalan Baru
Di era media sosial, kemarahan sangat mudah diproduksi. Sebuah potongan video beberapa detik dapat menyebar lebih cepat daripada klarifikasi yang panjang. Judul yang provokatif sering kali lebih menarik perhatian daripada penjelasan yang utuh. Akibatnya, masyarakat bisa bereaksi terhadap sesuatu yang sebenarnya belum mereka pahami secara lengkap.
Karena itu, sikap moderat bukan berarti menghilangkan keberanian untuk membela agama. Sebaliknya, moderasi mengajarkan keberanian untuk memastikan kebenaran sebelum mengambil sikap.
Apakah Kita Berlaku Sama Ketika Muncul dari Dalam Umat Islam Sendiri?
Jika ada sekelompok umat muslim melakukan tindakan atau menyampaikan pernyataan yang merendahkan ajarannya sendiri, bagaiman sikap kita selama ini. Apakah kita berontak atau diam karena dia bagian dari kelompok kita? Jika kita melihat konteks budaya ketimuran atau boleh di kata Indonesia, seharusnya tidak seperti itu.
Konteksnya janganlah kita menista agama lain, kepercayaan lain dan junjung toleransi yang selama ini kita jalani. Dulu kita tidak pernah bentrok antar penganut agama lain. Tidak pernah debat kusir dan sangat memahami "Lakum dinukum waliyadin" ("Untukmu agamamu, dan untukkulah agamaku"). Dan koreksi tersebut juga harus dilakukan dengan ilmu, argumentasi dan adab, bukan dengan kebencian.
Jangan sampai kita memiliki dua ukuran: sangat sensitif terhadap kesalahan orang lain, tetapi sangat permisif terhadap kesalahan orang sendiri.
Keadilan tidak mengenal batas kelompok
Namun demikian, persoalan lain yang juga perlu diperhatikan adalah kecenderungan mudah memberikan label “penistaan agama” terhadap sesuatu yang sebenarnya merupakan perbedaan pemahaman. Dalam Islam sendiri terdapat sejarah panjang mengenai perbedaan pendapat, penafsiran dan ijtihad. Tidak semua perbedaan merupakan penghinaan terhadap agama.
Karena itu, ungkapan “perbedaan adalah rahmat” perlu ditempatkan secara tepat. Perbedaan memang dapat menjadi rahmat ketika dikelola dengan ilmu, toleransi dan kedewasaan. Tetapi kalimat tersebut tidak boleh berubah menjadi alasan untuk berhenti berpikir kritis.
Tidak semua perbedaan otomatis benar. Sebaliknya, tidak semua pendapat yang berbeda dengan pemahaman kita otomatis salah. Di sinilah saya melihat tradisi Muhammadiyah menjadi sangat relevan. Muhammadiyah dikenal dengan semangat tajdid, pendidikan, ilmu pengetahuan dan gagasan Islam Berkemajuan. Dari perspektif sederhana sebagai simpatisan, nilai tersebut semestinya mendorong warga Muhammadiyah untuk tidak mudah terjebak pada sikap reaktif.
Muhammadiyah tidak perlu membuktikan dirinya moderat hanya dengan mengatakan bahwa organisasinya terbuka. Keterbukaan justru harus terlihat dari cara menghadapi perbedaan. Dalam konteks ini, Muhammadiyah memiliki peluang besar untuk menunjukkan wajah Islam yang dewasa: kuat dalam prinsip, terbuka dalam pergaulan, kritis dalam berpikir dan adil dalam bersikap.
Tantangan tersebut terutama berada di tangan generasi muda Muhammadiyah. Mereka hidup dalam zaman ketika informasi begitu cepat, tetapi kebenaran belum tentu ikut bergerak secepat informasi. Media sosial menjadikan siapa pun dapat menjadi komentator, bahkan hakim, hanya bermodalkan sebuah unggahan.
Jika ada pihak luar yang benar-benar menghina Islam, kitavsampaikan keberatan secara bermartabat dan gunakan mekanisme hukum yang tersedia. Jika tuduhan tersebut ternyata tidak terbukti, jangan takut untuk mengakui bahwa kita keliru. Dan jika persoalan datang dari internal umat sendiri, jangan pula menutup mata hanya karena pelakunya adalah saudara seiman.
Menurut saya, di situlah letak ujian kita beragama yang sesungguhnya. Kita tidak sedang diuji ketika membela kelompok sendiri dari kelompok lain. Kita justru diuji ketika harus memilih antara membela kelompok atau membela kebenaran. Sebab membela agama bukan hanya soal berani berbicara ketika agama kita dianggap diserang. Membela agama juga berarti menjaga agar umatnya tidak terjebak pada fitnah, kebencian, prasangka dan ketidakadilan.
Pada akhirnya, beragama bukan tentang menjadi orang yang paling banyak diam. Namun juga bukan tentang menjadi orang yang paling keras bersuara. Seharusnya bagaimana kemampuan kita untuk tetap adil ketika emosi mendorong kita untuk memihak.
Bagi Muhammadiyah dan generasi mudanya, semangat Islam Berkemajuan seharusnya dapat diwujudkan melalui sikap sederhana: berbeda tanpa bermusuhan, mengkritik tanpa menghina, membela tanpa membabi buta, dan mengoreksi diri tanpa takut kehilangan identitas.
Sebab jika kita ingin orang lain menghormati agama kita, barangkali langkah pertama yang harus dilakukan adalah menunjukkan bahwa nilai-nilai agama tersebut mampu membuat kita menjadi manusia yang adil, berilmu, dewasa dan beradab.