Sukakata.com — Wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), diguncang gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 pada Sabtu (15/8/2026) sekitar pukul 05.58 WITA (04.58.24 WIB).
Berdasarkan hasil pemutakhiran Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), episenter gempa bumi terletak di laut pada jarak sekitar 30 kilometer arah timur laut Mbay, dengan kedalaman 15 kilometer.
Guncangan gempa yang tergolong kuat ini dirasakan di sejumlah wilayah di Flores, mulai dari Labuan Bajo, Manggarai Barat, hingga Ruteng.
Sejumlah Bangunan Rusak

Dampak guncangan mengakibatkan kerusakan pada beberapa infrastruktur dan fasilitas umum. Di Labuan Bajo, kerusakan melanda sejumlah hotel seperti Hotel Jayakarta serta rumah warga sekitar. Sementara di Ruteng, bagian gedung kampus Unika Santu Paulus dilaporkan mengalami kerusakan hingga ambruk, serta kerusakan pada gedung Bandara Frans Sales Lega.
Dipicu Sesar Aktif dan Terdeteksi Tsunami
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kupang, Arief Tyastama, menjelaskan bahwa aktivitas gempa bumi tektonik ini dipicu oleh aktivitas sesar aktif yang membentang di pesisir utara Pulau Flores.
"Jadi, memang ada sesar aktif yang di sepanjang utara Pulau Flores. Seperti juga pada tahun 1992," ujar Arief.
Gempa utama ini juga memicu terjadinya gelombang tsunami di beberapa wilayah pesisir. Pengukuran BMKG mencatat adanya kenaikan muka air laut di 10 lokasi dengan ketinggian bervariasi antara 0,14 meter hingga mencapai 0,94 meter, di mana ketinggian tertinggi terdeteksi di wilayah Maurole.
Puluhan Gempa Susulan
Pasca gempa utama, aktivitas seismik di kawasan tersebut masih terus berlanjut. Hingga pukul 07.00 WIB, BMKG Stasiun Geofisika Kupang mencatat sedikitnya 54 kali gempa susulan (aftershocks) dengan magnitudo terbesar mencapai M6,2.
"Iya, satu yang untuk gempa dan masih susulan ya, gempa susulannya itu satu yang dirasakan. Satu yang dirasakan. Jadi. Sekarang ini sudah 54 gempa susulan," terang Arief Tyastama.
Imbauan BMKG kepada Masyarakat
Meskipun sebagian besar kenaikan tsunami yang terdeteksi berada di bawah 0,5 meter, BMKG mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk tetap waspada dan tidak panik.
Masyarakat disarankan untuk menjauhi area pantai, pesisir, serta muara sungai guna mengantisipasi kemungkinan kenaikan gelombang atau gempa susulan yang berpotensi memicu bahaya lanjutan. Warga juga diminta untuk selalu memantau perkembangan dan informasi resmi dari BMKG serta pemerintah daerah setempat.(Octav)