SEMARANG – Pembinaan mualaf kini memasuki babak baru yang lebih progresif dan menyentuh aspek kesejahteraan hidup secara menyeluruh. Alih-alih hanya berfokus pada pendalaman ilmu keagamaan, Mualaf Center Aisyiyah (MCA) Kota Semarang secara aktif memperkuat kemandirian finansial para anggotanya melalui penguasaan teknologi digital modern.
Langkah nyata tersebut diwujudkan lewat penyelenggaraan pelatihan praktis pemanfaatan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Bertempat di Aula SMK Muhammadiyah 1 Semarang, Jalan Indraprasta Nomor 37, kegiatan yang dihelat pada Ahad (25/10/2026) ini diikuti dengan antusias oleh 19 peserta dari berbagai kalangan usia, termasuk para ibu dan lansia.
Langkah strategis MCA Semarang ini merupakan lanjutan dari ikhtiar membina umat yang dirawat secara konsisten setiap dua bulan sekali. Tercatat, selama empat puluh delapan bulan berjalan, program pemberdayaan ekonomi mualaf tersebut telah melahirkan puluhan sesi pelatihan nyata. Setiap pertemuan bukan sekadar ajang menimba ilmu, melainkan ruang silaturahmi yang merangkul kerentanan serta memastikan bahwa pendampingan ini berfokus pada kemandirian jangka panjang.
Strategi Praktis Pemasaran Lewat Rumus "S-T-P-K"
Dalam sesi pelatihan tersebut, narasumber Agung S. Bakti—yang hadir sebagai media specialist dari Indoriset Communication sekaligus Koordinator Media Center Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Semarang—membagikan trik jitu agar para pelaku usaha kecil dapat meracik materi promosi tanpa harus pusing mengetik panjang atau menguasai komputer. Cukup berbekal ponsel pintar dan tombol mikrofon layaknya mengirim pesan suara di WhatsApp, para peserta diajar langsung membuat teks iklan hingga poster produk secara instan.
Agung S. Bakti menegaskan bahwa penguasaan teknologi digital di era modern bukan lagi pilihan, melainkan sebuah keharusan strategis untuk memutus rantai keterbatasan ekonomi umat.
“Ibu-Ibu tidak perlu mengetik panjang-panjang kalau jempolnya pegal. Di Google Gemini dan ChatGPT ada tombol mikrofon, tinggal bicara saja seperti curhat ke asisten pribadi,” ungkap Agung S. Bakti saat memandu jalannya pelatihan.
Di hadapan para peserta yang didominasi oleh lansia, narasumber merancang materi yang sepraktis mungkin dengan memperkenalkan bumbu rahasia berupa rumus S-T-P-K (Siapa pembelinya, Tugas apa yang harus dibuat AI, detail Produk Ibu, dan Kontak WhatsApp). Melalui panduan modul Buku Resep Dapur Digital untuk UMKM, para peserta dibimbing memanfaatkan asisten pintar seperti Google Gemini dan ChatGPT untuk mengatasi kebiasaan jualan sepi akibat minimnya informasi produk.
Penguatan Jangka Panjang dan Komitmen Pendampingan Umat
Sebagai penjelas materi, Agung S. Bakti menambahkan bahwa pemanfaatan teknologi ini dirancang sedemikian rupa agar ramah bagi seluruh kalangan, termasuk para peserta senior.
“Inilah inti rahasia pelatihan kita hari ini: Rumus S-T-P-K. Ingat-ingat singkatan ini ya, Bu. S untuk Siapa pembelinya, T untuk Tugas apa yang harus dibuat AI, P untuk detail Produk Ibu, dan K untuk Kontak WhatsApp Ibu. Kalau keempat unsur ini Ibu sebutkan saat memberi perintah ke AI, hasilnya langsung joss dan tidak ada informasi yang tertinggal!” jelas Agung yang juga dikenal sebagai instruktur pelatihan jurnalistik berbasis AI.
Sementara itu, Ketua MCA Kota Semarang, Iin Siti Arbainah, menegaskan bahwa pendampingan ekonomi ini sengaja dihadirkan agar para mualaf binaan memiliki daya saing yang kuat di tengah dinamika pasar digital.
“Pelatihan ini untuk membekali para pelaku UMKM dari kalangan mualaf. Kami berharap keterampilan digital praktis berbasis AI ini bisa meningkatkan daya saing dan memperluas jangkauan pasar produk lokal mereka,” ungkap Iin.
Melalui agenda rutin yang terus dirawat secara konsisten, MCA Kota Semarang berharap para anggota tidak hanya semakin istiqamah secara rohani, tetapi juga kokoh secara ekonomi untuk menunjang kesejahteraan keluarga.
Kontributor :Imam Abu Maulana
Editor : Tunjung EW