JAKARTA - Nilai tukar rupiah berpotensi melemah seiring lonjakan harga minyak dunia yang dapat meningkatkan beban subsidi bahan bakar minyak (BBM) dan memicu kenaikan inflasi di dalam negeri.
Saat ini, harga minyak dunia diketahui menguat pada perdagangan Jumat (30/10/2026) di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap ketersediaan pasokan energi global. Minyak mentah Brent untuk pengiriman berjangka naik 86 sen atau 0,75 persen menjadi 115,74 dolar AS per barel.
Sementara itu, kondisi rupiah dibuka menguat tipis 0,06 persen ke level Rp18.127 per dolar AS pada perdagangan Jumat pagi. Pada penutupan sebelumnya berada di level Rp18.137 per dolar AS. Meski demikian, nilai tukar rupiah berpotensi kembali tertekan.
Analis menilai, ada sejumlah faktor yang dapat memengaruhi pergerakan rupiah ke depan. Menurut CEO Edvisor Profina Visindo, Praska Putrantyo, pelemahan rupiah dapat dipengaruhi oleh tekanan harga minyak dunia yang berpotensi meningkatkan beban subsidi BBM.
Kondisi ini menjadi salah satu faktor yang secara tidak langsung memengaruhi pergerakan rupiah di tengah aksi jual saham oleh investor asing.
"Ya, dengan rupiah sendiri menurut saya, ini memang kaitannya secara tidak langsung dominan ya dari tekanan harga minyak mentah yang melonjak tinggi dan membuat potensi untuk subsidi BBM itu bisa meningkat kembali ya jika terutama yang BBM subsidi, jika ada minyak terus bertahan di atas 100 dolar per barel terutama minyak seperti itu karena minyak yang brand sudah di atas 110 dolar," katanya dalam dialog Kompas Bisnis, Jumat.
Kekhawatiran terhadap meningkatnya tekanan fiskal tersebut, dinilai menjadi salah satu pemicu awal pelemahan rupiah. Selain itu, potensi kenaikan harga BBM juga memicu kekhawatiran terhadap inflasi yang dapat semakin menekan nilai tukar rupiah ke depan.
"Nah, ditambah lagi ekspektasi terhadap kenaikan inflasi. Jadi dengan peningkatan harga bahan bakar dan mungkin dimungkinkan dengan BBM non mungkin akan naik ya."
"Itu juga akan berdampak pada inflasi-inflasi di ritel seperti itu. Itu yang akan Melemahkan rupiah ke depan juga," jelas Praska Putrantyo.
Di sisi lain, cuaca panas berkepanjangan juga berpotensi memicu kenaikan harga pangan.
"Di samping juga menurut saya efek dari cuaca panas kepanjangan ini kan juga memicu inflasi pangan ke depan," imbuhnya.
Kombinasi inflasi domestik dan lonjakan harga minyak yang lantas dinilai dapat semakin menekan rupiah.
"Nah, ini yang menurut saya masalah inflasi di dalam negeri plus tekanan minyak akan membuat rupiah cenderung melemah," terang Praska Putrantyo.
Kemudian, arah kebijakan suku bunga The Fed juga masih menjadi perhatian pasar.
"Dan masuk bunga saat ini kan juga kita masih wait and see bagaimana sikap The Fed ke depan apakah fed rate naikin bunganya di Desember ini atau tidak seperti itu," tuturnya.
Rupiah Berpotensi Tembus Rp19.000
Dalam kesempatan berbeda, Analis Mata Uang dan Komoditas, Ibrahim Assuaibi, menilai tingginya ketergantungan Indonesia pada impor minyak membuat lonjakan harga komoditas tersebut berpotensi meningkatkan permintaan dolar AS.
Terlebih, harga minyak dunia kini telah melampaui jauh asumsi yang ditetapkan dalam APBN 2026.
“Berarti rupiah ini akan terus mengalami kelemahan. Saya mengindikasikan, dari harga minyak mentah yang terus di atas 100, kemudian Brent di atas 115, ada kemungkinan besar rupiah ini akan ke 19 ribu,” kata Ibrahim dalam acara open house Traze Andalan Futures di Sinarmas Land Plaza Sudirman, Jakarta, Kamis (29/10/2026), dilansir Kontan.co.id.
Selain itu, permintaan dolar AS juga diperkirakan meningkat untuk pembayaran utang yang jatuh tempo hingga akhir tahun serta pembagian dividen perusahaan. Di sisi lain, lonjakan harga minyak dunia berpotensi memperberat beban anggaran negara, terlebih pemerintah masih harus membiayai berbagai program prioritas.
Ibrahim menilai tekanan tersebut terjadi ketika pemerintah juga tengah menghadapi persoalan defisit anggaran. Besarnya anggaran untuk sejumlah program pemerintah pun menjadi sorotan di tengah risiko meningkatnya beban fiskal akibat kenaikan harga energi.
“Pada saat kita lagi pusing tentang masalah defisit anggaran, harga minyak naik, dana dialihkan juga begitu besar ke MBG dan Koperasi Merah Putih. Nah, ini pun juga menjadi beban tersendiri bagi pemerintah,” tuturnya.
Di tengah tekanan eksternal dan domestik yang belum mereda, Ibrahim memproyeksikan rupiah masih berisiko melemah hingga tahun depan. Menurutnya, tekanan tersebut berpotensi berlanjut bila rupiah mengakhiri tahun ini pada level yang lebih rendah.
“Rupiah pun juga kemungkinan besar masih akan melemah. Kalau seandainya sampai akhir tahun di Rp 19.000, ya kemungkinan besar di tahun 2027 itu tidak akan jauh dari Rp 20.000,” ucap Ibrahim lagi.
Editor : Tunjung EW