KUDUS -- Madrasah Diniyyah Mishbahul Wathon di Dukuh Klumpit, Kabupaten Kudus, memperingati milad ke-47 pada 29 Oktober 2026. Selama hampir setengah abad, lembaga pendidikan yang berdiri sejak 29 Oktober 1979 ini konsisten berkiprah dalam pendidikan keagamaan, pembinaan akhlak, serta penguatan kader Muhammadiyah di lingkungan masyarakat.

Perjalanan Madrasah Diniyyah Mishbahul Wathon (Madin MW) menjadi bagian penting dari sejarah dakwah dan pendidikan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Klumpit. Kehadirannya sejak awal tidak hanya ditujukan untuk memberikan pendidikan agama kepada anak-anak, tetapi juga menjadi sarana menyiapkan generasi penerus yang memiliki pemahaman keislaman dan semangat berorganisasi.

Dalam catatan refleksi milad yang ditulis Hasan Sunarto, salah satu alumni Madin MW, pendirian madrasah tersebut merupakan hasil perjuangan sejumlah tokoh Muhammadiyah Klumpit. Di antaranya almarhum H. Mastur dan ayahnya, bersama tokoh-tokoh Muhammadiyah setempat yang berupaya menghadirkan lembaga pendidikan agama bagi masyarakat.

Menariknya, bangunan madrasah yang digunakan hingga sekarang memiliki sejarah tersendiri. Sebagian bangunan awalnya merupakan gudang penggilingan tebu milik H. Mastur, sedangkan sebagian lainnya berdiri di atas tanah wakaf almarhum H. Basri.

Dari bangunan sederhana dengan segala keterbatasan sarana dan prasarana tersebut, Madin MW tumbuh menjadi lembaga pendidikan yang memberikan manfaat bagi masyarakat Klumpit dan desa-desa sekitarnya.

Penguatan kelembagaan juga menjadi bagian dari perjalanan madrasah. Pada 2011, Madin MW mengikuti pendataan oleh Departemen Agama sebagai bagian dari penguatan legalitas dan administrasi lembaga pendidikan.

Selama perjalanannya, madrasah ini telah melahirkan banyak lulusan yang kini tersebar di berbagai lingkungan masyarakat. Keberadaan santri dari luar Dukuh Klumpit juga menunjukkan bahwa kepercayaan masyarakat terhadap pendidikan yang diselenggarakan Madin MW terus berkembang.

Kiprah pendidikan Muhammadiyah dan 'Aisyiyah di Klumpit kini juga semakin meluas. Pimpinan Ranting 'Aisyiyah Klumpit telah mengelola Taman Penitipan Anak (TPA) dan Kelompok Bermain (KB). Sementara itu, PRM bersama PRA Klumpit mulai merintis pendirian Taman Kanak-Kanak (TK) untuk memperluas layanan pendidikan sejak usia dini.

Pengembangan tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kesinambungan pendidikan dan pembinaan karakter generasi penerus, mulai dari usia dini hingga pendidikan keagamaan.

Bagi Hasan Sunarto, Madin MW juga memiliki makna personal karena menjadi tempat awal tumbuhnya kecintaan terhadap dunia pendidikan. Pengalaman tersebut menjadi awal perjalanan dan pengabdiannya di dunia pendidikan. Ia menilai, Madin MW bukan sekadar tempat belajar agama, melainkan juga ruang penanaman nilai, pembentukan karakter, dan pewarisan semangat pengabdian.

Memasuki usia ke-47 tahun, Madin MW diharapkan terus istiqamah menjadi pusat pendidikan keagamaan dan pembinaan generasi penerus. Semangat para pendiri yang mengawali perjuangan dari bangunan sederhana diharapkan tetap menjadi pijakan dalam mengembangkan pendidikan dan dakwah Muhammadiyah di Klumpit.

Warisan perjuangan para pendahulu tidak hanya berupa bangunan madrasah, tetapi juga nilai keikhlasan, kepedulian terhadap pendidikan, dan semangat mencerdaskan generasi yang terus dilanjutkan hingga kini.

Kontributor : Saiful Adha

Editor : Tunjung EW