KUDUS – Mimpi yang diperjuangkan selama 15 tahun akhirnya terwujud. SD Muhammadiyah Birrul Walidain Kudus, Jawa Tengah, mencatat sejarah setelah siswinya, Tsurayya Ayoedya Nurmagupita, meraih medali perunggu bidang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) dalam International Mathematics and Science Olympiad (IMSO) ke-23 di Depok, Jawa Barat, pada 2–7 Oktober 2026.
Prestasi tersebut menjadi pencapaian bersejarah bagi sekolah karena untuk pertama kalinya siswa bidang IPA berhasil meraih medali dalam kompetisi olimpiade internasional yang diselenggarakan secara langsung.
Tsurayya bersaing dengan 404 peserta dari 23 negara dalam ajang olimpiade sains dan matematika tingkat sekolah dasar tersebut. Keberhasilannya sekaligus mengharumkan nama Kabupaten Kudus, Muhammadiyah, dan Indonesia di kancah internasional.
IMSO-23 diselenggarakan melalui kolaborasi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), Direktorat Sekolah Dasar, Klinik Pendidikan MIPA (KPM), serta Majelis Pendidikan Dasar, Menengah, dan Pendidikan Nonformal (Dikdasmen dan PNF) Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
Guru pembimbing SD Muhammadiyah Birrul Walidain Kudus, Anita Fitriyanti, mengatakan medali tersebut merupakan hasil dari proses belajar, latihan berkelanjutan, doa, dan dukungan berbagai pihak.
“Ini menjadi kebanggaan tersendiri bagi kami karena untuk pertama kalinya bidang IPA SD Muhammadiyah Birrul Walidain Kudus berhasil melangkah hingga olimpiade internasional yang diselenggarakan secara luring,” ujar Anita.
Menurutnya, pengalaman berkompetisi dengan peserta dari berbagai negara diharapkan menjadi motivasi bagi siswa lain untuk terus mengembangkan kemampuan dan berani meraih prestasi di tingkat yang lebih tinggi. Kepala SD Muhammadiyah Birrul Walidain Kudus, Jamaluddin Kamal, menyebut keberhasilan tersebut sebagai jawaban atas mimpi yang telah diperjuangkan selama 15 tahun.
“Alhamdulillah, mimpi 15 tahun yang lalu akhirnya diwujudkan oleh Allah Swt. Hari ini, bidang IPA SD Muhammadiyah Birrul Walidain Kudus mampu meraih prestasi internasional. Ini adalah nikmat sekaligus amanah besar yang harus terus kami jaga dan kembangkan,” kata Jamaluddin.
Ia berharap capaian Tsurayya menjadi awal lahirnya prestasi-prestasi baru, baik di tingkat nasional maupun internasional. Sekolah juga berkomitmen membangun generasi berprestasi yang tetap menjunjung tinggi karakter.
Jamaluddin menegaskan, nilai tersebut diwujudkan melalui prinsip SEHATI, yakni Santun, Empati, Humanis, dan Tetap Membumi. Prestasi akademik, menurutnya, harus berjalan seiring dengan pembentukan akhlak dan kepedulian terhadap sesama. Medali perunggu IMSO-23 menjadi bukti bahwa siswa dari daerah memiliki peluang bersaing di tingkat dunia melalui pembinaan yang konsisten dan dukungan lingkungan pendidikan.
Bagi SD Muhammadiyah Birrul Walidain Kudus, pencapaian Tsurayya bukan sekadar penghargaan. Tetapi sebagai langkah awal untuk mewujudkan visi sekolah sebagai pusat peradaban berkemajuan yang melahirkan generasi berilmu, berakhlak mulia, dan mampu memberikan manfaat bagi masyarakat.
Kontributor : Jamalludin Kamal, S.Pd,M.Pd
Editor : Tunjung EW