SURABAYA – Sebanyak 305 mahasiswa penerima beasiswa Asrama Mahasiswa Nusantara (AMN) Surabaya Angkatan I resmi menyelesaikan pendidikan tinggi. Mereka bukan sekadar membawa gelar akademik, tetapi juga membawa cerita tentang keberagaman Indonesia yang dipertemukan dalam satu ruang pendidikan.
Para lulusan tersebut berasal dari 37 provinsi dan menempuh pendidikan di empat perguruan tinggi mitra. Dari 305 wisudawan, sebanyak 186 mahasiswa berhasil meraih IPK di atas 3,5. Bahkan, lima mahasiswa mampu menyelesaikan studi hanya dalam waktu 3,5 tahun.
Di balik angka tersebut, terdapat kisah mahasiswa yang menunjukkan bagaimana kesempatan pendidikan dapat mengubah arah masa depan.
Salah satunya adalah Eben Heizer Mirino, mahasiswa asal Papua Barat yang menempuh pendidikan di Universitas Negeri Surabaya. Eben berhasil menyelesaikan studinya sekitar 3,5 tahun dengan IPK 3,8. Perjalanan pendidikannya tidak berhenti setelah meraih gelar sarjana. Ia melanjutkan pendidikan magister melalui program beasiswa.
Kisah Eben menjadi gambaran bahwa program AMN tidak hanya memberikan tempat tinggal dan akses pendidikan bagi mahasiswa dari berbagai daerah, tetapi juga membuka peluang bagi mereka untuk berkembang dan melanjutkan cita-cita.
Keberagaman menjadi salah satu kekuatan utama AMN Surabaya. Mahasiswa dari berbagai daerah dengan latar belakang budaya yang berbeda dipertemukan dalam lingkungan yang sama. Mereka belajar bersama, membangun pertemanan, dan menciptakan jejaring yang melampaui batas daerah asal.
Setelah menyelesaikan pendidikan, hubungan tersebut diharapkan tidak terputus. AMN Surabaya membentuk Ikatan Alumni AMN Surabaya Tahun 2026 sebagai wadah untuk menjaga komunikasi, memperkuat silaturahmi, membangun jejaring, dan membuka peluang kolaborasi antarlulusan.
Pesan penting juga disampaikan Sekretaris Jenderal Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) Badri kepada para lulusan. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan tidak semestinya hanya diukur dari pekerjaan atau pencapaian pribadi.
“Jangan hanya bertanya pekerjaan apa yang saya dapatkan, namun nilai apa yang akan saya ciptakan. Jangan hanya bertanya sejauh mana saya akan berhasil, tanyakan pula siapa yang akan merasakan manfaat dari keberhasilan saya,” ujar Badri.
Pesan tersebut menjadi relevan bagi para lulusan AMN yang setelah wisuda akan kembali ke berbagai daerah di Indonesia. Mereka diharapkan menjadi bagian dari generasi muda yang tidak hanya memiliki kompetensi akademik, tetapi juga memiliki kepedulian untuk memberikan manfaat bagi lingkungan dan masyarakat.
Badri juga memberikan empat pesan yang dapat menjadi bekal para lulusan dalam menapaki perjalanan berikutnya.
“Bawalah ilmu sebagai bekal, integritas sebagai kompas, keberanian sebagai langkah, dan kebermanfaatan sebagai tujuan,” pesannya.
Wisuda perdana 305 mahasiswa AMN Surabaya Angkatan I dengan demikian bukan sekadar seremoni kelulusan. Momentum tersebut menjadi penanda lahirnya generasi muda dari berbagai penjuru Indonesia yang telah dipertemukan melalui pendidikan dan dipersiapkan untuk melanjutkan kontribusi di tengah masyarakat.
Dari 37 provinsi, mereka datang membawa latar belakang dan cerita masing-masing. Setelah lulus, mereka diharapkan kembali membawa ilmu, jejaring, dan pengalaman yang diperoleh untuk menghadirkan manfaat di daerah masing-masing.
AMN pun menjadi lebih dari sekadar tempat tinggal mahasiswa. Ia menjadi ruang untuk bertumbuh, bertemu dalam keberagaman, membangun persaudaraan, dan mempersiapkan generasi muda Indonesia agar mampu menciptakan dampak setelah menyelesaikan pendidikan tinggi.