Oleh Syahirul Alem (Tabligh PCM Kota & Pustakawan SMP Muhammadiyah 1 Kudus)
Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) merupakan ujung tombak dan garda terdepan dari seluruh gerak dakwah persyarikatan. Hidup dan matinya gerakan Muhammadiyah sangat ditentukan oleh denyut nadi aktivitas di tingkat ranting. Namun, realitas di lapangan sering kali menunjukkan tantangan yang berat.
Pengajian rutin tingkat ranting kerap kali sepi, hanya dihadiri oleh segelintir pengurus senior, sementara ruang-ruang digital persyarikatan sepi dari interaksi.
Di sinilah urgensi kehadiran sosok "influencer" menjadi sangat vital. Konsep influencer dalam konteks ini tidak sekadar merujuk pada selebritas media sosial dengan jutaan pengikut, melainkan individu-individu yang memiliki daya pengaruh, komitmen, dan energi untuk menggerakkan massa, baik secara kultural di dunia nyata maupun secara digital di dunia maya.
Akan jauh lebih progresif dan berdampak nyata jika para influencer ini tidak hanya menjadi peramai di dunia maya dengan menekan tombol suka dan meninggalkan komentar. Mereka harus bertransformasi menjadi jamaah tetap yang hadir secara fisik di pengajian ranting.
Kehadiran fisik mereka menciptakan efek bola salju: memicu antusiasme, memecah kekakuan, dan mengundang jamaah lain untuk ikut serta. Dalam ranah sosial, peran mereka bergeser menjadi motor penggerak dan penyokong donasi.
Lembaga Amil Zakat, Infak, dan Sedekah Muhammadiyah (Lazismu) kemudian hadir sebagai penyokong dana strategis sekaligus bertindak sebagai influencer kelembagaan yang melegitimasi dan memperluas jangkauan gerakan sosial tersebut.
Pertanyaan mendasarnya adalah dari mana kita bisa menghadirkan para influencer akar rumput ini? Sumber daya manusia Muhammadiyah sebenarnya sangat melimpah. Mereka dapat direkrut dan dikoordinasikan dari pegawai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) seperti guru, dosen, dan staf rumah sakit, lalu dari simpatisan loyal yang tersebar di berbagai lapisan masyarakat, hingga para pengurus Cabang dan Ranting itu sendiri.
Secara khusus, Lembaga Pengembangan Cabang Ranting dan Pembinaan Masjid (LPCRPM) harus menjadi motor penggerak utama dalam memetakan, melatih, dan mendistribusikan para aktivis dakwah ini agar mereka siap menjadi pemantik api gerakan di ranting-ranting yang mulai meredup.
Mengingat vitalnya peran para influencer ini dalam pergerakan di tingkat akar rumput, keberadaan dan kesejahteraan mereka tidak boleh diabaikan. Keikhlasan memang menjadi ruh perjuangan di Muhammadiyah, namun pengelolaan dakwah yang profesional dan berkemajuan menuntut adanya sistem pendukung yang adil. Para pegawai AUM yang mendedikasikan waktu ekstra mereka untuk menghidupkan ranting perlu diberikan insentif khusus atau penghargaan struktural dari manajemen AUM tempat mereka bekerja.
Hal ini akan menyelaraskan antara profesionalisme kerja dan loyalitas berpersyarikatan.
Di sisi lain, para aktivis dakwah dan kader LPCRPM yang bergerak di lapangan juga harus mendapatkan perhatian nyata dari lembaga filantropi ekosistem persyarikatan, seperti Lazismu.
Perhatian ini dapat diwujudkan dalam bentuk dana operasional dakwah, beasiswa pendidikan bagi keluarga mereka, hingga program pemberdayaan ekonomi berbasis komunitas. Ketika kebutuhan dasar dan operasional para penggerak ini ditopang dengan baik, fokus mereka untuk menghidupkan jamaah akan menjadi lebih optimal tanpa terbebani oleh kendala logistik yang sering kali menyurutkan langkah dakwah di lapangan.
Pada akhirnya, menghidupkan kembali ranting Muhammadiyah melalui strategi influencer akar rumput adalah sebuah langkah taktis yang integratif. Ini adalah kerja kolaboratif yang mempertemukan potensi AUM, kelincahan gerakan LPCR, dan kekuatan finansial Lazismu.
Dengan menjadikan influencer sebagai peserta aktif yang membumi di pengajian, menyokong kegiatan sosial secara nyata, dan didukung oleh ekosistem penghargaan yang memanusiakan para penggeraknya, maka ranting tidak akan lagi menjadi ujung tombak yang tumpul. Ranting akan kembali menjadi pusat peradaban Islam yang ramah, dinamis, berkemajuan, dan senantiasa dirindukan oleh jamaahnya.