JAKARTA – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Indonesia tak hanya merusak lingkungan, tetapi juga mengancam kesehatan masyarakat. Kementerian Kesehatan mencatat 64.913 balita terserang infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) akibat kabut asap, dari total 288.540 kasus di tujuh provinsi dan 63 kabupaten/kota hingga 14 Oktober 2026.
Data yang diberitakan pada Sabtu (17/10/2026). Dalam laporan yang sama, empat petugas dan relawan pemadam juga dilaporkan meninggal dunia akibat karhutla di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Di tengah kondisi tersebut, Muhammadiyah mengambil peran melalui pelayanan kesehatan dan penyediaan Rumah Oksigen untuk membantu masyarakat yang terdampak kabut asap.
Rumah Oksigen Layani Ratusan Pasien
Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Katingan, Kalimantan Tengah, membuka Pos Pelayanan Kesehatan dan Rumah Oksigen sejak 7 September 2026. Berdasarkan laporan pada 25 September 2026, fasilitas tersebut telah melayani 210 pasien selama 15 hari operasional.
Layanan yang diberikan meliputi pemeriksaan kesehatan, terapi oksigen, nebulizer, serta pemberian obat dan vitamin sesuai kebutuhan medis. Pelayanan didukung 10 tenaga kesehatan yang terdiri atas dokter, perawat, dan bidan.
Ketua PDM Katingan, Sardinie U Budin, mengatakan Rumah Oksigen merupakan bentuk kepedulian Muhammadiyah terhadap warga yang mengalami gangguan kesehatan akibat paparan asap karhutla.
“Rumah Oksigen ini merupakan bentuk kepedulian Muhammadiyah kepada masyarakat Katingan. Kami ingin hadir dan membantu warga yang terdampak kabut asap, khususnya mereka yang mengalami gangguan kesehatan,” ujar Sardinie.
Gerakan tersebut menunjukkan peran organisasi masyarakat dalam memperluas akses pertolongan kesehatan ketika dampak bencana dirasakan langsung oleh warga.
Perlindungan Kesehatan Perlu Diperkuat
Tingginya kasus ISPA, khususnya pada balita, menjadi pengingat bahwa penanganan karhutla tidak cukup hanya dengan memadamkan api. Pemerintah juga perlu memastikan layanan kesehatan, pemantauan kualitas udara, serta perlindungan bagi kelompok rentan berjalan optimal.
Masyarakat yang mengalami batuk berkepanjangan, sesak napas, atau keluhan pernapasan lainnya diimbau segera mengakses fasilitas kesehatan. Anak-anak, lansia, ibu hamil, dan penderita penyakit pernapasan perlu mendapat perhatian khusus.
Kolaborasi pemerintah, tenaga kesehatan, relawan, dan organisasi masyarakat menjadi kunci untuk mengurangi dampak karhutla. Di saat Muhammadiyah membantu warga melalui Rumah Oksigen, upaya pencegahan kebakaran dan perlindungan kesehatan masyarakat tetap membutuhkan penanganan yang menyeluruh dan berkelanjutan.
Editor : Tunjung EW