KUDUS – Kepala sekolah di lingkungan pendidikan Muhammadiyah dan Aisyiyah tidak hanya dituntut kemampuan manajerial, tetapi juga memiliki tanggung jawab sebagai kader persyarikatan dan nilai Islam berkemajuan.

Pesan tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Kudus, H. Noor Muslikhan, S.Sos. Hal itu disampaikan dalam acara Pelantikan dan Serah Terima Jabatan Kepala SD Aisyiyah Multilingual Darussalam Kudus dan Kepala TK Aisyiyah Bustanul Athfal (ABA) XIX Getasrabi.

Kegiatan yang berlangsung di Hotel Horison IJ Kudus, Kamis (25/9/2026). Dan dihadiri jajaran PDM Kudus, Pimpinan Daerah Aisyiyah (PDA) Kudus, serta kepala sekolah dan madrasah di lingkungan Muhammadiyah dan Aisyiyah Kabupaten Kudus. Juga dari Disdikpora Kabupaten Kudus.

Dalam kesempatan tersebut, jabatan Kepala SD Aisyiyah Multilingual Darussalam Kudus diserahterimakan dari Amrina Faatihatun Nisa, S.Pd. kepada Hilfa Millati Azka, S.Pd., M.Pd.
Sementara itu, jabatan Kepala TK ABA XIX Getasrabi diamanahkan kepada Devyca Dwi Nanda Dari, S.KM.

Kepala Sekolah Bukan Sekadar Jabatan

Noor Muslikhan mengatakan, kepala sekolah di lingkungan Muhammadiyah atau Aisyiyah memiliki tanggung jawab yang lebih luas dibandingkan sekadar menjalankan fungsi administratif dan manajerial. Menurutnya, kepala sekolah merupakan pendidik, pemimpin, sekaligus bagian dari kader persyarikatan. Yang memiliki tanggung jawab menjaga arah pendidikan agar tetap sesuai dengan nilai-nilai Muhammadiyah dan Islam berkemajuan.

Ia menjelaskan, kepala sekolah setidaknya menjalankan beberapa fungsi penting. Di antaranya mengelola lembaga, memberikan arah dan motivasi kepada warga sekolah, menjalankan fungsi edukasi, serta memastikan seluruh proses pendidikan berjalan dalam koridor nilai-nilai Islam berkemajuan.

“Kepala sekolah sebagai kader persyarikatan memiliki tugas menjaga agar sekolah tidak lepas dari Islam berkemajuan,” ujar Noor Muslikhan.

Pesan tersebut menjadi penting karena sekolah Muhammadiyah dan Aisyiyah tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik. Lembaga pendidikan juga menjadi bagian dari amal usaha persyarikatan yang memiliki fungsi pendidikan sekaligus dakwah.

Sinergi Muhammadiyah dan Aisyiyah

Noor Muslikhan juga menekankan pentingnya memperkuat sinergi antara Muhammadiyah dan Aisyiyah, dalam mengembangkan amal usaha, termasuk di bidang pendidikan. Karena keberadaan amal usaha tidak semata-mata menjadi lembaga pelayanan kepada masyarakat.

Aal usaha lebih dari itu, amal usaha merupakan ruang untuk mengimplementasikan nilai dakwah, pengabdian, dan pembentukan karakter.

Karena itu, pergantian kepala sekolah diharapkan tidak hanya menjadi proses administratif,. Tetapi juga menjadi momentum untuk melanjutkan program yang sudah berjalan, sekaligus menghadirkan inovasi sesuai kebutuhan lembaga dan masyarakat.

Kepala sekolah yang baru juga diharapkan mampu membangun kolaborasi dengan guru, tenaga kependidikan, orang tua, persyarikatan, serta berbagai pihak terkait.

Estafet Kepemimpinan Pendidikan

Serah terima jabatan Kepala SD Aisyiyah Multilingual Darussalam Kudus dari Amrina Faatihatun Nisa kepada Hilfa Millati Azka menjadi bagian dari estafet kepemimpinan untuk melanjutkan pengembangan sekolah.

Hal serupa berlangsung di TK ABA XIX Getasrabi dengan diterimanya amanah oleh Devyca Dwi Nanda. Dari pergantian kepemimpinan tersebut diharapkan dapat menjaga kesinambungan program pendidikansekaligus membuka ruang bagi pengembangan baru di masing-masing lembaga.v

Dengan demikian, kepala sekolah tidak hanya dituntut mampu mengelola sekolah secara profesional, tetapi juga mampu menerjemahkan nilai-nilai persyarikatan ke dalam budaya sekolah, pembelajaran, pembinaan karakter, serta pelayanan pendidikan kepada masyarakat.

Pelantikan dan serah terima jabatan tersebut sekaligus menjadi momentum untuk memperkuat komitmen pendidikan Muhammadiyah-Aisyiyah di Kabupaten Kudus dalam melahirkan generasi yang berilmu, berkarakter, dan berlandaskan nilai-nilai Islam berkemajuan.