JAKARTA - Pengamat kebijakan publik dan mantan Sekjen Kementerian BUMN Said Didu meminta Presiden RI Prabowo Subianto melepaskan diri dari pengaruh mantan Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi) dan mendorong pemakzulan Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka.

Menurutnya, pengaruh Jokowi dan dinastinya menjadi salah satu penghalang perbaikan bangsa. Ia menuding kekuasaan selama 10 tahun pemerintahan Jokowi telah ditempatkan di atas negara.

“Sebenarnya bangsa kita rusak karena negara diturunkan posisinya di bawah kekuasaan, dan itu dilakukan oleh Presiden Jokowi dengan bersama partai-partai, bersama tokoh-tokoh selama 10 tahun terakhir,” kata Said Didu dalam tayangan YouTube berjudul “Maklumat Bandung: Pemakzulan Gibran, Jika DPR Tidak Jalan Maka Rakyat Bergerak”, dikutip Rabu (14/10/2026).

Said menilai negara hanya digunakan sebagai alat legitimasi bagi kepentingan pihak yang berkuasa. Ia menyebut langkah awal untuk memperbaiki kondisi tersebut adalah menyingkirkan pihak-pihak yang dianggap menghalangi perubahan, termasuk Jokowi dan dinastinya.

“Yang perlu disingkirkan memang awalnya adalah bonekanya, adalah Joko Widodo dan dinastinya. Itu dulu yang kita singkirkan,” ujarnya.
Said kemudian meminta Prabowo membebaskan diri dari pengaruh Jokowi yang disebutnya sebagai sebuah penjara.

“Langkah kedua, lepaskan Presiden Prabowo dari penjara Joko Widodo,” ucapnya.  

Selain itu, Said meminta masyarakat mendorong pemakzulan Gibran, setelah putusan Mahkamah Konstitusi (MK) yang dianggap membuka peluang untuk menindaklanjuti upaya tersebut. Baginya, putusan MK sebagai bola yang sudah diletakkan di titik penalti, sementara partai-partai politik seharusnya menjadi pihak yang mengeksekusinya.

“Saya katakan, saya berharap kita semua siap-siap menjadi penendang bola yang sudah diletakkan oleh Mahkamah Konstitusi di titik penalti untuk memakzulkan Gibran. Tapi yang menendang harusnya 8 pemain bola yang ada, yaitu partai-partai,” jelasnya.

Said kemudian mengkritik sejumlah partai politik yang dinilainya belum menunjukkan sikap tegas dalam merespons persoalan tersebut.

“Nah ini bayangkan kita mengharap dari partai, enggak ada. Jadi tidak salah apabila bola sudah di titik penalti, mau ditendang, dan penonton, kita rakyat semua, mendobrak stadion untuk menendang bola itu,” ungkapnya.

Said pun mengajak masyarakat memulai gerakan tersebut dari Bandung untuk menyuarakan desakan pemakzulan Gibran.

“Mari kita mulai dari Bandung, menggemakan suara rakyat agar bola pemakzulan Gibran harus dimulai demi menyelamatkan bangsa Indonesia dari daki yang sangat berat yang ditinggalkan dinasti Jokowi,” tuturnya.