KENDAL – Muhammadiyah mulai melebarkan sayap ke industri farmasi. Organisasi yang selama ini memiliki jaringan besar di sektor kesehatan tersebut kini membangun PT Ausilabs Pharma Indonesia di Desa Mororejo, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal, Jawa Tengah.
Pabrik obat itu dibangun dengan nilai investasi tahap awal sekitar Rp150 miliar di atas lahan seluas kurang lebih 7.000 meter persegi. Groundbreaking pembangunan dilakukan pada Rabu (7/10/2026).
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi Muhammadiyah untuk tidak hanya menjadi pengguna produk farmasi, tetapi mulai masuk sebagai produsen.
Ketua PW Muhammadiyah Jawa Tengah, KH Tafsir, mengatakan pembangunan pabrik farmasi merupakan bagian dari upaya memperkuat gerakan ekonomi Muhammadiyah melalui industrialisasi.
Menurutnya, Muhammadiyah memiliki basis usaha dan jaringan yang cukup besar untuk masuk ke sektor produksi.
“Muhammadiyah sekarang tidak sekadar ormas, tapi harus menjadi sosiopreneur, bagian sosial yang membangun perekonomian. Tidak hanya menjadi konsumen, saatnya jadi produsen. Tidak hanya buying, tapi saatnya mulai making,” kata Tafsir.
RS Muhammadiyah Jadi Pasar Potensial
Tafsir menyebut jaringan rumah sakit Muhammadiyah menjadi salah satu pasar potensial bagi produk farmasi yang nantinya dihasilkan.
Selama ini, kebutuhan obat di rumah sakit Muhammadiyah masih banyak dipenuhi oleh produsen lain. Karena itu, pembangunan pabrik dinilai menjadi langkah strategis untuk memperkuat kemandirian di sektor kesehatan.
“Rumah sakit kita itu menjadi pasar besar, tapi pasar itu masih dinikmati orang lain. Makanya, kita bangun pabrik ini. Tidak usah harus impor lagi,” ujarnya.
Khusus di Kabupaten Kendal, Muhammadiyah memiliki lima rumah sakit yang berpotensi menjadi bagian dari ekosistem industri farmasi tersebut.
Rektor Universitas Muhammadiyah Purwokerto yang juga Komisaris PT Ausilabs Pharma Indonesia, Prof. Dr. Jebul Suroso, mengatakan pengembangan industri farmasi sejalan dengan besarnya ekosistem Muhammadiyah di bidang kesehatan.
Muhammadiyah, kata dia, tidak hanya memiliki rumah sakit, tetapi juga lembaga pendidikan yang menghasilkan tenaga kesehatan.
“Karena Muhammadiyah memiliki banyak usaha di bidang kesehatan, termasuk rumah sakit dan pendidikan kesehatan, maka sangat tepat jika kita juga mengembangkan usaha dan industri di bidang farmasi,” kata Jebul.
Potensi Belanja Obat Rumah Sakit Jateng Capai Rp 4 Triliun
Menilai peluang industri farmasi di Jawa Tengah cukup besar. Berdasarkan informasi yang disampaikan, belanja obat rumah sakit di Jawa Tengah mencapai sekitar Rp4 triliun per tahun.
Besarnya kebutuhan tersebut menjadi salah satu alasan Muhammadiyah melihat industri farmasi sebagai sektor yang memiliki prospek panjang.
“Artinya, kebutuhan terhadap obat dan alat kesehatan sangat tinggi. Di situlah Muhammadiyah hadir,” ujarnya.
Menariknya, pembangunan PT Ausilabs Pharma Indonesia tidak hanya mengandalkan sumber daya Muhammadiyah. Proyek tersebut juga menggandeng investor dari Singapura dan India.
Kerja sama dengan investor asing tersebut diharapkan tidak sebatas menghadirkan modal, tetapi juga membuka peluang transfer pengetahuan dan teknologi di bidang farmasi.
Jebul mengatakan pengembangan ke depan diarahkan untuk membangun ekosistem industri kesehatan yang lebih luas.
“Ke depan, kami ingin menjadikan ini sebagai sebuah ekosistem, bukan hanya di bidang obat-obatan, tetapi juga mencakup alat kesehatan,” katanya.
Siapkan SDM hingga 150 Lapangan Kerja
Dukungan juga datang dari Muhammadiyah Kendal. Sekretaris PD Muhammadiyah Kendal, Agus, mengatakan pihaknya siap mendukung operasional pabrik, termasuk dari sisi sumber daya manusia.
“Kami mensupport dan mendukung pendirian pabrik obat ini. Apalagi di Kendal ini Muhammadiyah memiliki lima rumah sakit. Kami juga sudah siapkan SDM terbaik untuk mendukung pabrik ini,” katanya.
Sementara itu, Bupati Kendal Dyah Kartika Permasari menyambut positif pembangunan pabrik tersebut.
Menurutnya, kehadiran industri farmasi baru di Kendal diharapkan mampu memberikan dampak terhadap perekonomian daerah sekaligus membuka kesempatan kerja bagi masyarakat.
“Pabrik ini atas inisiasi dari Muhammadiyah, khususnya dari beberapa universitas Muhammadiyah yang ada di Jawa,” kata Dyah.
Pada tahap awal, PT Ausilabs Pharma Indonesia diproyeksikan membuka sekitar 150 lapangan pekerjaan.
Pemerintah Kabupaten Kendal, lanjut Dyah, siap bersinergi dengan perusahaan untuk menyiapkan sumber daya manusia yang sesuai dengan kebutuhan industri.
“ tentunya kami nanti akan bersinergi, bermitra dan juga menyiapkan SDM yang sesuai dengan kebutuhan yang dibutuhkan oleh PT Ausilabs Pharma Indonesia,” pungkasnya.
Pembangunan pabrik ini sekaligus menandai babak baru Muhammadiyah dalam mengembangkan sektor kesehatan. Dengan dukungan jaringan rumah sakit, perguruan tinggi, investor Singapura dan India, serta potensi pasar farmasi Jawa Tengah, PT Ausilabs Pharma Indonesia diproyeksikan menjadi salah satu bagian dari upaya membangun kemandirian industri kesehatan Muhammadiyah.