KUDUS – Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Garung Lor, Kabupaten Kudus, baru sekitar satu tahun menjalankan roda organisasinya. Namun, usia yang relatif muda itu tidak menghalangi lahirnya kader yang mulai dipercaya di tingkat cabang 'Aisyiyah.
Dua kader PRA Garung Lor kini masuk dalam jajaran Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah (PCA) Kaliwungu 1. Mereka adalah Anti Nihayati, SE dan Noor Farida Ariyani, S.Ag. Anti Nihayati bahkan dipercaya menjadi Ketua PCA Kaliwungu 1, sedangkan Noor Farida Ariyani mendapat amanah di Majelis PAUD Dasmen.
Kiprah keduanya menjadi catatan menarik dalam perkembangan kaderisasi ‘Aisyiyah di Kecamatan Kaliwungu. Sebab, dari sebuah ranting yang baru tumbuh, dua kadernya telah mendapat kepercayaan untuk mengambil peran dalam kepengurusan di tingkat cabang.
Kepercayaan tersebut hadir bersamaan dengan penataan organisasi ‘Aisyiyah di Kaliwungu. Setelah sebelumnya berada dalam satu struktur cabang, wilayah Kaliwungu kini dimekarkan menjadi PCA Kaliwungu 1 dan PCA Kaliwungu 2.
Bagi Anti Nihayati, amanah sebagai Ketua PCA Kaliwungu 1 bukan sesuatu yang pernah dibayangkannya. Sebelum dipercaya menjadi ketua di tingkat cabang, Anti juga aktif dalam PRA Garung Lor sebagai bendahara.
“Kaget, haru, bangga dan merasa terhormat. Karena cabang ini baru, tentunya kami belum bisa berbuat banyak,” ujar Anti.
Pengalaman sebagai bendahara ranting dan aktif di cabang, tentu menjadi bagian dari prosesnya dalam menjalankan aktivitas organisasi di lingkungan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah. Selain itu ybs juga salah satu staf di Universitas Muhammadiyah Kudus. Kini, amanah di PCA Kaliwungu 1 menjadi tantangan sekaligus ruang pengabdian yang lebih luas.
“Terima kasih dan bersyukur sudah diberi mandat. Insyaallah amanah ini akan kami jalankan dan berusaha membawa PCA Kaliwungu 1 semakin maju dan berkembang,” katanya.
Anti berharap PCA Kaliwungu 1 tidak sekadar menjadi struktur organisasi hasil pemekaran, tetapi mampu menghadirkan program dan gerakan yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
“Semoga ‘Aisyiyah selalu hadir dan diterima masyarakat banyak,” ujarnya.
Cerita Anti dan Noor Farida adalah contoh bahwa kaderisasi dapat tumbuh dari berbagai tingkatan organisasi. Ranting benar-benar menjadi ruang pembelajaran dan pengabdian kader.
Bagi PRA Garung Lor, keterlibatan kedua kadernyan menjadi bagian dalam membangun organisasi bisa dari akar rumput. Karena organisasi bisa tumbuh tidak hanya berlangsung di tingkat pimpinan yang lebih tinggi, tetapi juga dapat dimulai dari ranting.
Dari Garung Lor, lingkungan ‘Aisyiyah dapat tumbuh dari akar rumput, kemudian berkembang menjadi kekuatan organisasi di tingkat cabang.